Dunia Lain di Lobang Tambang Mbah Soero, Sawahlunto

Ombilin dan Sawahlunto adalah dua nama tempat yang familiar di ingatan saya. Sejak kecil, saya sudah mengenal keduanya sebagai salah satu tempat penghasil batubara terbaik di Indonesia. Di sanalah Belanda membangun pertambangan batubara dan memekerjakan ratusan ribu pekerja kasar dari berbagai tempat di negeri ini. Sisa-sisa cerita sejarah penambangan batubara dan peninggalan jaman Kolonial Belanda bisa dinikmati di kota tua yang cantik dan antik ini.

Sejumlah bangunan kuno yang tersisa dari jaman Belanda masih terpelihara dan sebagian difungsikan menjadi objek wisata. Sebutlah Stasiun Kereta Api yang kini berubah menjadi Museum Kereta Api kedua di Indonesia. Selain itu, ada juga Goedang Ransoem dan Silo yang dulu digunakan sebagai pendukung aktivitas pertambangan batubara di sana.

Lobang Tambang Soero

Sepatu & Topi Tambang yg Wajib Dipakai

Salah satu objek wisata yang menarik perhatian kami adalah Lobang Tambang Mbah Soero yang terletak di Jl Muhammad Yazid, Lembah Segar, Kota Sawahlunto. Lobang Tambang Mbah Soero bersebelahan dengan Galeri Info Box yang menyajikan informasi sejarah pertambangan batubara di Sawahlunto. Lobang Tambang Mbah Soero ini dulunya lobang tambang batubara pertama di patahan Soegar dengan Mbah Soerono sebagai mandornya. Aslinya bernama Lobang Tambang Soegar, namun masyarakat menyebutnya sebagai Lobang Tambang Mbah Soero karena segan padanya.

Lobang tambang ini digali pada tahun 1898 dan digunakan hingga tahun 1930. Lobang ini kemudian ditutup karena naiknya permukaan air dari Batang (Sungai) Lunto. Selama lebih dari 70 tahun, lobang ini dipenuhi air, terabaikan dan semakin tertutup oleh pemukiman warga yang kemudian tumbuh di sekelilingnya. Barulah pada tahun 2007, pemerintah setempat memutuskan untuk membukanya sebagai objek wisata tambang Sawahlunto.

Membuka lobang tambang tersebut untuk umum bukan perkara mudah. Perlu waktu 22 hari untuk memompa air keluar dari lobang yang panjangnya . Selain itu, dibangunlah tangga dan penerangan untuk memudahkan pengunjung. Saluran ventilasi berupa pipa udara juga tersedia untuk menyediakan udara segar agar tak pengap ketika berada di dalamnya. Sekarang Lobang Tambang Mbah Soero tertata cukup rapi, siap dikunjungi para peminat wisata sejarah.

Salah satu lorong dalam lobang tambang

Suasana dalam lobang tambang

Cerita “Dunia Lain” di Dalam Tambang

Kami diharuskan memakai pakaian sepatu boot dan topi tambang yang tersedia sebelum memasuki lobang. Selain untuk alasan keamanan, hal ini menarik karena seakan-akan kami menjadi pekerja tambang beneran. Kami juga diijinkan untuk berfoto di dalam tambang yang masih mengandung batubara itu.

Kandungan batubara di lobang tambang memang masih tinggi. Emas hitam itu masih bisa dilihat di berbagai bagian di lobang tambang. Saya pun sempat memegangnya. Konon masih tersedia ratusan ribu ton di lobang tambang itu. Namun Pemerintah Sawahlunto memutuskan untuk tidak menambangnya dan memeliharanya sebagai objek wisata. Selain itu, untuk alasan keamanan pemukiman yang berada di atasnya.

Batubara di dinding tambang

Monumen Orang Rantai

Willizon (53), akrab dipanggil Pak Win, adalah guide kami siang itu. Sebelum memasuki lobang, bapak tua humoris ini menyampaikan beberapa petunjuk yang harus diikuti, diantaranya adalah larangan mengumpat dan sok-sokan ingin melihat penampakan. Mengenai hal ini, Pak Win menceritakan sebab-sebabnya kemudian.

Selama berjalan di dalam lobang tambang, Pak Win bercerita tentang sejarah lobang tambang. Batubara Sawahlunto ditambang dengan memekerjakan “orang rantai” yang berasal dari berbagai bagian dari Indonesia, seperti Medan, Jawa, Madura dan Sulawesi. Mereka bekerja dengan rantai terikat pada kakinya sehingga tidak bisa melarikan diri. Sebagian dari mereka adalah para terhukum di daerah asalnya karena dulunya pernah merampok, mencuri atau memberontak. Bayangkan betapa tersiksanya hidup di bawah tanah dengan tekanan dari tentara Belanda. Apalagi ditambah dengan adanya kejadian perkelahian atas etnis atau yang dipaksa menjadi nanak jawi (homoseksual). Sebagian dari mereka pun kemudian berkelahi sampai diantaranya terbunuh.

Pada saat renovasi tambang untuk dibuat objek wisata, ditemukan sejumlah potongan tubuh manusia yang sudah menghitam seperti batubara. Beberapa darinya lalu dimakamkan, namun sebagian besar tengkorak dibiarkan tetap di tempatnya dan tidak digali lebih dalam. Setelah mendengar cerita ini, sontak saya dan Uni Miya (guide kami) meminta Pak Win meneruskan ceritanya di luar tambang.

Pak Win kemudian menceritakan beberapa kisah. Saat renovasi, sejumlah pekerja mendengar suara gamelan dan saron di lobang tambang. Pernah seorang pengunjung menyampaikan kekagumannya pada Pak Win karena di dalam lobang dia disambut beberapa orang Jawa dengan penuh senyuman. Padahal tidak ada orang Jawa di dalam sana. Di lain kesempatan, seorang pengunjung wanita menangis tanpa henti di dalam lubang karena mendapat penglihatan penyiksaan orang rantai di masa lalu. Menyeramkan sekaligus membuat miris. Beberapa kejadian misterius lainnya kemudian memunculkan beberapa panduan untuk pengunjung, misalnya: permisi sebelum masuk dan larangan berkata kasar di dalamnya.

Lobang tambang ini menjadi saksi sejarah pedih para pendahulu kita sekaligus menunjukkan betapa kayanya alam Indonesia. Batubara kualitas terbaik menjadi kebanggaan kita sekaligus menjadi penarik bangsa asing untuk datang dan mengambilnya. Sejarah yang pedih untuk dikenang namun menjadikan kita belajar banyak hal tentang menjaga potensi yang kita miliki.

13 thoughts on “Dunia Lain di Lobang Tambang Mbah Soero, Sawahlunto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Are you human? * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.