Meet My Pinoy  Fellas in Singapore

Meet My Pinoy Fellas in Singapore

What’s more fun than walking around in the city you’re visiting?

…..

It’s always fun to meet and hang out with locals or fellow travelers. On my last Singapore trip, I managed to meet my not-so-local friends: Kris and Cyra. They’re Filipinos who currently live and work in Singapore.  We hang out together in Siem Reap couple years ago at Blogfest Asia event.

Lunch with Kris at Swensen’s

My 2nd day trip started by taking my mom to Orchard Road, a must-visit place for her. We spent couple hours on mall to mall adventure before having lunch at Swensen’s at ION Orchard. Based on research I did, the place was listed at one of halal restaurants in Singapore. So, I texted Kris and invited him to have lunch with us.

Lunch with Kris at Swensen’s

It was around 12 PM when Kris showed up in his gym clothes. He looked a bit sleepy but still cute, I was so happy to finally see him again after last time we met on his visit to Jakarta.

We talked about so many things; about his experience being a talent for his hotel’s commercial video (hahaha), his puppy, high living cost in Singapore and why my mother wears veil while I’m not. He said, “oh maybe because you’re not as holy as your mom”. Shoot.

Read more

Aplikasi Rute Transportasi Umum di Singapore

Aplikasi Rute Transportasi Umum di Singapore

Dua kali berkunjung ke Singapore, cukup untuk menyimpulkan bahwa transportasi umumnya telah didesain sedemikian rupa hingga benar-benar memudahkan penggunanya baik turis maupun warganya. Mereka memiliki moda yang bervariasi sesuai kebutuhan pengguna, pun petunjuk penggunaannya disajikan dalam berbagai bahasa (Inggris, Cina, India dan Melayu).

Untuk memaksimalkan waktu berkunjung yang singkat, maka pemilihan rute transportasi harus direncanakan baik-baik. Googling, research and take notes. Ini rumus wajib untuk turis budget di manapun. Khusus pada trip ke Singapore lalu, saya sangat terbantu oleh website dan aplikasi berikut ini:

Aplikasi Go There Singapore
  1. Everything starts with Google
    It applies to everything, I’d say. Saat di hotel, saya googling “how to get to merlion from bugis”, Google langsung menampilkan Maps, Direction, alamat tujuan dan durasi perjalanan. Just make sure to use the right keywords (in English). Check the keywords structure above as well.
  2. Street directory
    Setelah Googling, saya juga menggunakan Street Directory via mobile browser. Website ini menampilkan lokasi dan jarak stasiun MRT terdekat, jumlah stasiun yang akan dilewati dan jalur MRT yang harus diambil. Namun situs ini tidak menampilkan info tarif, karena itu saya lebih merekomendasikan aplikasi GoThere.Sg.
  3. Go there.sg
    Aplikasi gothere.sg adalah salah satu app wajib baik untuk turis maupun warga. Bisa diakses lewat mobile browser (ringan banget btw) atau instal aplikasinya sekalian. Interface awalnya hanya terdiri dari dua kolom yaitu “From” dan “To” dan button Go There. Aplikasi ini akan memberikan alternatif rute berdasarkan mode transportasi yang dipilih, tarif dan perkiraan waktu hingga ke satuan menit.

    Bila kita memilih moda taksi, app ini bahkan memberikan info mengenai tarif Electronic Road Pricing (ERP) yang berlaku sesuai jam . ERP adalah tarif yang diberlakukan untuk pengendara yang ingin melewati jalur berbayar pada jam sibuk. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menghindari kemacetan di Singapore. Selengkapnya baca lebih lanjut di halaman ERP LTA Singapore.

Namun, teman yang tinggal di Singapore memberikan tips untuk jangan terlalu terpatok pada panduan peta MRT. Kadang rute tertentu sebenarnya dekat meskipun di peta kelihatan jauh (karena melewati satu-dua stasiun). Misalnya dari Merlion Park ke Gardens by the Bay, kita harus melewati dua stasiun dan satu bis. But in fact, aslinya tidak sejauh itu menurut Kris yang biasa lari sore di area sana.

Nah, ada rekomendasi website atau aplikasi yang lain untuk jalan-jalan di Singapore? Bagi infonya di sini dong!

Exploring the Fine City

Exploring the Fine City

The magnet says so

Ada banyak cerita yang saya dengar mengenai kehidupan di Singapore dan ingin saya buktikan sendiri pada kunjungan kali ini. Salah satu yang selalu teringat adalah banyaknya aturan dan ketaatan warganya pada aturan-aturan tersebut. Meludah di tempat umum, kena denda. Buang puntung rokok sembarangan, kena denda. Pipis sembarangan, apalagi. Sebagai orang yang biasa melihat hal-hal semacam itu terjadi sehari-hari di Indonesia khususnya Jakarta, penasaran rasanya ingin membandingkan keadaan di sini dengan Singapore yang dekatnya hanya sepelemparan batu dari Jakarta.

Pertama kali menginjakkan kaki di Changi 2010, tertib dan bersihnya memang sudah terasa. Tapi hal ini pernah saya rasakan juga di bandara-bandara internasional besar di negara-negara lainnya. Tertibnya sebuah society mestinya baru bisa dirasakan setelah keluar dari bandara. Kita harus langsung merasakannya di jalanan, pasar, transportasi umum dan fasilitas umum.

Sebagai pengguna transportasi umum baik saat di Indonesia maupun saat bepergian ke belahan lain di dunia, gimanapun saya takjub melihat antrian panjang di pintu masuk Stasiun MRT. Wait, what? Iya, antrian. Namun jangan bayangkan antrian yang numpuk dan berantakan seperti biasa kita lihat di halte Transjakarta. Warga Singapore berbaris rapi di pintu, sudah siap dengan MRT Card yang langsung di-tap ke mesin untuk membuka pintu dan antrian pun bergerak maju dengan cepat.

Boon Keng Station
Menunggu Kereta

Para calon penumpang MRT berbaris di sekitar pintu menunggu datangnya kereta selanjutnya. Penumpang yang keluar diberi prioritas duluan karena waktu berhenti kereta pun bisa diperkirakan. Padat, namun antrian tetap rapi meski saat itu sedang hari Senin pagi.

Memang bagian-bagian Singapore yang saya lihat pada umumnya bersih dan tertib. Bersihnya mengingatkan pada Washington, DC yg saya kunjungi tahun lalu. Bersih. Tertib. I think I can live in one of those two cities.

Kabarnya, kalau ketahuan meludah di tempat umum dendanya 200 SGD. Itu kalau ketahuan. Jenis-jenis pelanggaran ketertiban (ringan) lain beserta sanksinya dipajang di plang di banyak public area. Dijamin siapapun selalu melihat dan nggak bakal lupa.

Gimanapun, Singapore bukannya tanpa cela. Di sebuah jalan dekat Mustafa, seorang lelaki Melayu terlihat meludah di jalan dengan santainya. Beberapa orang tampak menyeberang sembarangan. Mungkin bila saya tinggal lebih lama, bisa lihat lebih banyak hal seperti ini di bagian lain Singapore.

Mungkin nggak ada negara/masyarakat yang seratus persen disiplin, bersih dan tiada cela. Namun, kita bisa lihat seberapa besar usahanya dari fasilitas yang tersedia, persentase penegakan peraturan dan masyarakat berperilaku saat tak ada officials di sekitarnya. Buat saya, Singapore terlihat berusaha memenuhi itu semua. Rapi, bersih dan saya suka.

“Gunting Pita” di Battlestar Galactica

“Gunting Pita” di Battlestar Galactica

Ada pengalaman pribadi yang sangat berkesan yang saya dapat dari kunjungan ke Singapore kali ini. Pengalaman pertama yang mengakhiri ketakutan saya terhadap suatu hal yang membebani saya bertahun-tahun. Bukan soal bepergian ke luar negeri dengan cowok-cowok ini. Bukan juga soal melanggar hukum dan mendapat sanksi. Bukan itu semua kok. Ini adalah tentang bagaimana akhirnya saya berani naik roller coaster!

Ketinggian selalu menjadi momok buat saya selama bertahun-tahun. Tiap kali naik eskalator, nggak pernah bisa nggak pegangan. Saya masih ingat rasanya gemetar tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan. Saya juga masih ingat seringnya saya kebagian tugas jaga tas hanya karena nggak pernah berani naik Halilintar di Dunia Fantasi. Sampai perlahan-lahan saya berusaha mengatasi ketakutan itu dengan mencoba flying fox atau seiring dengan seringnya bepergian naik pesawat terbang.

Yeah, it works. Sekarang saya bisa naik pesawat terbang dengan tenang. Bisa juga naik jembatan busway tanpa keliyengan. Hanya tinggal beberapa PR yang belum tuntas seputar takut ketinggian, salah satunya adalah naik roller coaster. Dan di USS, di Battlestar Galactica saya berniat melakukannya.

Begitu memasuki area Sci-Fi City saya udah jiper sebenarnya. Dua rel merah-biru yang seakan berpotongan itu ternyata lebih  tinggi dan panjang dari yang saya bayangkan (atau lihat di YouTube). Mengerikan! Tapi demi niat pada diri sendiri dan –terutama- demi tiket USS yg terlanjur dibayar dengan harga yang mahal setengah mati, saya harus bisa menaklukkan ketakutan ini.

Antrian yang kosong di pintu seakan menjadi tanda untuk masuk segera.Saya segera masuk untuk naik kereta yang Human (merah). Rupanya antrian di dalamnya justru mengular, panjang, berliku sampai tangga. Video-video yang niatnya menyemangati para Human diputar berkali-kali selama antri. Selama antrian yang panjang itu saya terus menguatkan diri, untuk terus maju dan nggak mundur lagi. It was not easy, though.

Sampai akhirnya saya tiba di ujung antrian dan tinggal selangkah menuju kebebasan kereta Human. Pilihannya masih dua: mundur atau maju. Saya pilih maju dan menyerahkan ketakutan di atas sana pada waktu. Saya hanya berharap saya tidak mendadak pingsan –or even worse– muntah di atas Battlestar Galactica.

And I survived.

Akhirnya naik juga!

Battlestar Galactica

 

***

Kadang kita merasa takut pada sesuatu yang bahkan ketakutannya sendiri nggak beralasan. Contohnya saya yang merasa takut pada ketinggian meskipun tidak punya trauma khusus, misalnya jatuh dari tempat tinggi. Tapi saya memelihara ketakutan itu dalam waktu lama dengan hanya sedikit usaha  untuk menghentikannya.

Kadang perlu sesuatu yang ekstrim atau keinginan terhadap sesuatu yang jauh lebih besar daripada rasa takut itu untuk akhirnya bisa menang. Untuk kasus ini, entah keinginan kuat untuk menulis posting ini atau telanjur bayar tiket USS yang akhirnya bisa mendorong saya naik kereta itu. Apapun itu, saya bersyukur akhirnya berani naik Battlestar Galactica.. dan The Mummy Returns setelahnya.

Tiga Malam di The Hive Backpackers Hostel

Tiga Malam di The Hive Backpackers Hostel

Selama di Singapore, kami menginap di sebuah backpacker hostel atas rekomendasi seorang teman: Adhi. Adhi yang sering berwisata ke Singapore memang punya sejumlah referensi penginapan berharga ekonomis, misalnya ABC, The Hive Backpackers, Footprints dan Checkers Inn. Kami memilih The Hive karena dekat sekali dengan stasiun MRT, bersih dan ber-wifi.

The entrance

The bed at dorm room

The Hive terletak di Serangoon Road, sekitar 70 meter dari Exit C Boon Keng MRT Station. Dari Exit C, kami jalan lurus ke perempatan dan cari gedung hitam yang berjendela kuning. Pembayaran dilakukan di depan dan mereka menerima pembayaran dengan kartu kredit. Ada juga handuk yang disewakan sebesar 1 SGD (deposit 3 SGD) selama menginap.

Since I was the only girl in this group, so I was staying at the Female Dorm Room. Female Dorm Room adalah satu kamar panjang yang dihuni oleh 6 tamu perempuan, tempat tidurnya bertingkat dan ada loker di dalam kamar untuk masing-masing tamu. Harganya 22 SGD/bed/night. Kamar mandinya di luar kamar, digunakan bersama oleh semua tamu. Seperti layaknya hotel backpackers lainnya, jangan harap bisa menemukan kamar mandi dengan fasilitas bathtub dan toilet amenities. Kamar mandinya hanya dilengkapi toilet duduk dan shower dengan air panas dingin. Jadi teringat masa-masa tinggal di asrama, tapi ini masih jauh lebih baik dari asrama kampusku. :roll:

Toast, cereal and milk

Coffee, anyone?

Lounge with cable TV

Free internet access & wifi

Seperti penginapan tipe bed-and-breakfast lainnya, tentu hostel ini juga menyediakan sarapan yang bisa disiapkan sendiri. Menu yang selalu ada adalah:  kopi, susu, teh, roti tawar, macam-macam selai dan cereal. Habis makan ya cuci piring dan gelas masing-masing… jangan berasa sedang di rumah sendiri. :mrgreen:

Bagi low-budget-traveler kayak saya yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan ketimbang berdiam di kamar hotel, fasilitas yang diberikan oleh The Hive sudah memuaskan. Asal ada kamar mandi bersih, bisa simpan barang dengan aman plus ada free wifi… I won’t ask for more.

Satu lagi hal yang menyenangkan dari hotel ini adalah responnya yang cepat terhadap email. Biasanya, email balasan darinya akan muncul dalam selang beberapa menit saja. Wei Bin, salah satu pengelolanya, memberikan petunjuk arah yang tepat di email ketika pada hari pertama kami bingung harus turun di stasiun mana. Suatu hari, syal yang saya letakkan di tempat tidur sempat menghilang. Rupanya petugas cleaning servicenya mengira saya sudah check-out dan “meminggirkan” barang-barang yang tersisa. Tapi untunglah syal saya masih disimpan oleh pengelola hotel setelah saya menanyakan via email.

Oh ya, sepertinya hotel ini lumayan populer di kalangan backpacker Indonesia? Entah kebetulan atau tidak, saat menginap di sana long weekend lalu itu pas ada banyak tamu dari Indonesia.

Tertarik mencoba?

The Hive Backpackers Hostel
624 Serangoon Road
Singapore 218223

Travel Plan: Long Weekend in Singapore!

Travel Plan: Long Weekend in Singapore!

Akhir pekan ini, saya dan beberapa teman berencana jalan-jalan ke Singapore. Trip ini sudah direncanakan sejak beberapa bulan lalu. Tadinya, pesertanya lebih banyak. Namun, sepasang dari mereka mengundurkan diri karena sang istri baru hamil. Jadilah kami hanya berangkat berempat saja.

Oh ya, this is definitely a low budget traveling. We’ll use budget airlines and we’ll be staying at a budget  hotel. I’m telling you this so you don’t have to put any expectation on me. I’m not that rich hihi.

At Changi, last year~

This is gonna be my second time visiting Singapore. Tahun lalu, dalam perjalanan panjang San Francisco-Jakarta, saya sempat mendarat di Singapore dan menginap selama 5 jam di hotel transit dalam bandara Changi. Nggak ada kesempatan keluar bandara, karena tiba di sana pas tengah malam. Cape banget juga dong lagian 16 jam di pesawat. 😥 Tapi kali ini saya bakalan ke Singapore. Beneran!

Itinerary sementara yang sudah dirancang adalah:
Jumat malam – tiba di Singapore.
Sabtu – Seharian di Universal Studio Singapore.
Minggu – Jalan-jalan di downtown & belanja-belanji

Dalam percakapan di Twitter, ada beberapa rekomendasi dari @snezanasb dan @mudina tentang tempat-tempat makan & belanja yang layak dikunjungi. Berikut rekap rekomendasi dari mereka:

The Moomba, cafe kecil lucu gitu, di Boat Quay, deket Fullerton
Wild Honey di Mandarin Gallery Orchard
Alcoholic Cider rasa Apple atau Pear
Wisma Atria foodcourt coba Indian Food-nya, Roti Canai, Murtabaknya enak, Dinosaurs di Toast Box
ION B4 ada 4 Fingers Crispy Chicken Wings , Tsukiji Gindaco Takoyaki yg worth to try
Barrack di Dempsey Road has the best dessert in town
dessert yg enak di Spore Max Brenner semuanya coklat di Esplanade & di Suntec City

Apa ini… bacanya aja udah bikin lapar (–“)

Sedangkan untuk belanja saya dikasihtau untuk mampir ke Mustafa Center & Bugis Street untuk beli barang-barang yang lucu-lucu dan murah-murah. Tapi ada juga rekomendasi lain dari @mudina:
Far East Plaza,Uniglo di ION dan IKEA

Adhi, teman yang sering ke Singapore, berkomentar bahwa tempat-tempat ini kelasnya premium. Konsekuensinya: mahal. But I’ll look for those places anyway, namanya juga lagi jalan-jalan. Tapi kalau ada rekomendasi dari anda tentang tempat-tempat yang juga layak dikunjungi di sana, share dong! :mrgreen: